Sony secara mengejutkan mengumumkan bahwa produksi skala besar untuk kaset fisik game PlayStation baru akan dihentikan pada Januari 2028 mendatang. Kebijakan drastis ini langsung memicu gelombang kekhawatiran di industri game global, khususnya terkait masa depan toko game tradisional dan pelestarian game fisik. Keputusan ini diambil seiring tren konsumen yang semakin beralih ke pembelian secara digital dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi para peritel di pusat perbelanjaan, kabar ini datang bagaikan pukulan telak di tengah industri yang sudah lama megap-megap. Penjualan kaset fisik sebenarnya masih mencatatkan angka jutaan kopi di seluruh dunia, namun porsinya terus tergerus oleh kemudahan unduh digital. Banyak pihak menilai langkah raksasa teknologi asal Jepang ini bakal mempercepat kematian lapak fisik game.
Pasar game bekas atau pre-owned yang selama ini menjadi penyelamat keuangan toko-toko khusus juga terancam hancur lebur. Padahal, margin keuntungan dari penjualan game baru tergolong sangat tipis bagi peritel. Dengan hilangnya sirkulasi kaset bekas, sumber pemasukan utama toko-toko retail praktis lumpuh total.
Beberapa analis industri berpendapat bahwa solusi "code-in-a-box" atau kode unduh dalam kotak mungkin menjadi jalan tengah bagi toko agar tetap bisa berpartisipasi dalam penjualan digital. Meski demikian, tanpa nilai jual kembali dan sensasi mengoleksi barang fisik, daya tarik toko game konvensional di jalanan kota dipertanyakan.
Sony Playstation Akhiri Era Kaset Fisik, Pakar Sebut ini Pukulan Telak Toko Game
Keputusan Sony menyetop kaset fisik PlayStation dinilai para pengamat sebagai hantaman telak bagi bisnis retail konvensional yang bertahan hidup di tengah gempuran era digital. Chris Dring dari The Game Business menyebut bahwa keputusan ini cukup mengejutkan mengingat penjualan fisik masih menyumbang jutaan kopi secara global meskipun kalah besar dari digital.
Senada dengan hal tersebut, Rhys Elliot dari Alinea Analytics mengungkapkan bahwa pasar game bekas selama ini merupakan mesin penggerak utama yang menjaga toko spesialis tetap bernapas. "Marjin game fisik baru sangat tipis, tapi game bekas adalah tempat uang sebenarnya berada," ujar Elliot mengulas kondisi pasar.
Piers Harding-Rolls dari Ampere Analytics menambahkan bahwa langkah ini bakal melemahkan pasar game bekas secara signifikan, namun sekaligus memaksa para peritel untuk berinovasi. Toko-toko harus memutar otak untuk menawarkan model bisnis baru berbasis digital agar tidak gulung tikar sepenuhnya.
Perubahan arah industri ini menandai babak baru di mana masa depan game fisik di jalanan pertokoan dunia mulai mendekati ujung tanduk. Tanpa strategi adaptasi yang radikal, para pedagang retail harus bersiap menghadapi kenyataan pahit era serba digital.